Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 25 Oktober 2020

LOMBA BLOG #PGRI, #KOGTIK, #EPSON dan #KSGN #http://gurupenggerakindonesia.com

 


 


Akhir tahun 2019 dunia dikejutkan dengan kemunculan sebuah virus yang menginveksi manusia dengan cepat. Sejak kali pertama ditemukan di Wuhan China, pada akhir Desember 2019 virus corona SARS-CoV-2 telah menginfeksi jutaan penduduk bumi. Secara global pada 15 Oktober 2020 pukul 15.53 ada 38.394.169 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, termasuk 1.089.047 kematian dilaporkan ke WHO, (https://covid19.who.int/).

Hampir seluruh sektor kehidupan terguncang karenanya. Ekonomi, sosial budaya, politik, pendidikan, bahkan peradaban. Kantor-kantor pemerintah banyak yang memberlakukan  bekerja dari rumah atau lebih familiar dengan istilah Work From Home (WFH) bagi para pegawainya. Dalam bidang pendidikan peristiwa ini terasa sangat berpengaruh. bagaimana tidak, kegiatan belajar mengajar yang menjadi rutinitas bertemunya pelajar dan pengajar tidak dapat dilaksanakan. Semua sektor pendidikan formal, informal, maupun nonformal menghentikan kegiatan tatap muka langsung. Semua tingkatan pendidikan formal mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi mengalihkan proses belajar mengajarnya dengan cara daring Belajar Dari Rumah (BDR).

Menteri pendidikan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid- 19). Ada lima poin yang menjadi poin surat edaran yang ditujukan kepada gubernur dan bupati/wali kota tersebut, yaitu tentang pembatalan Ujian Nasional (UN) tahun 2020; proses Belajar Dari Rumah (BDR); Ujian Sekolah untuk kelulusan, Kenaikan Kelas, dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Perkembangan selanjutnya, kementrian pendidikan melalui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Keputusan Nomor 018/H/Kr/2020 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Berbentuk Sekolah Menengah Atas Untuk Kondisi Khusus. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya penyesuaian agar proses dan progress pembelajaran tetap dapat berlangsung dengan baik.

Sehubungan dengan hal tersebut para guru dihadapkan pada situasi baru, kondisi abnormal namun dituntut tetap melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai pendidik. Perubahanpun terjadi dalam tempo cepat. Para pendidik dituntut tetap bisa membimbing para siswanya dengan berbagai cara dan berbagai media belajar jarak jauh. Bagi sebagian pendidik yang sudah terbiasa menggunakan media pembelajaran daring tentu hal ini tidak begitu menjadi hambatan, namun bagi sebagian lagi dan ini rata-rata kebanyakan para pendidik kita masih belum terampil dalam teknik operasionalnya. Hampir semua mengenal pembelajaran daring seperti Google Classroom, Edmodo, Quiper, Rumah Belajar, Ruang Guru, dan lain-lain. Namun baru pada tataran mengenal, belum terbiasa melaksanakan. Maka saat inilah waktu yang tepat untuk bergerak maju bersama membuat pergerakan secara masif. 

Delapan bulan sudah kita melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), banyak cerita yang sudah kita alami. Berikut beberapa pendapat rekan-rekan guru yang berhasil dihimpun. Pada umumnya rekan guru memandang dari dua sisi peristiwa ini. Bersyukur dengan kondisi saat ini karena implikasi positifnya menjadikan banyak karakter berubah, salah satunya kita harus keluar dari zona nyaman (comfort zone) untuk mengupayakan yang terbaik, walau proses pembelajaran memang dirasakan kurang maksimal terutama pada konteks berinteraksi. Banyak kendala yang melatarbelakangi hal tersebut termasuk faktor ekonomi. Belum semua orang tua siswa mampu memfasilitasi gawai, tablet, atau komputer sebagai sarana belajar daring bagi putra/putrinya, di sisi lain banyak juga yang sudah bisa memberikan gawai namun terkendala quota sehingga pembelajaran daring kurang maksimal. Rekan lain berpendapat kondisi ini membuat guru menjadi kreatif, tambah mengenal berbagai platform pembelajaran online. Namun demikian bagi siswa dirasa kurang maksimal pembelajarannya karena cenderung hanya berjalan satu arah. Ada juga yang berpendapat semua serba kaget dengan terjadinya perubahan dalam waktu singkat. Saya senang katanya, karena menjadi lebih pintar dalam penguasaan berbagai platform pembelajaran tapi kesulitanya guru dan siswa belum satu frekuensi dalam melaksanakan pembelajaran daring. Daya dukung sarpras, pola pikir orang tua, perubahan mindset bahwa belajar bukan hanya tatap muka namun lebih variatif dan dinamis masih belum dipahami bersama secara utuh. Kondisi saat ini merupakan suatu kondisi darurat sehingga sekolah dan seluruh stakeholder harus bijaksana dalam menyikapi dan melaksanakan proses pembelajaran, tidak terlalu idealis harus menyelesaikan target kurikulum, namun hendaknya dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan siswa. Upaya yang dilakukan sejauh ini sudah cukup baik, namun komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua siswa perlu diefektifkan dengan berbagai cara. Ada juga yang berpendapat bahwa Pengamalan sikap dan karakter siswa yang sudah cukup baik menurun karena pembelajaran daring, siswa lebih banyak menggunakan waktu luang untuk bermain, kurangnya pengawasan menjadikan perilaku siswa baik ucapan maupun tindakan cenderung mengalami penurunan kualitas. Kerjasama orang tua dan guru sangat diperlukan dalam hal ini. Pembelajaran sain memerlukan kerja kelompok virtual, hal ini masih terkendala. Semua mengalami perubahan baik proses pembelajaran maupun berbagai sisi kehidupan. Kita harus bisa mengadaptasi keadaan dan lingkungan sekitar. 

Peran Teknologi Terkini dalam Membuat Pembelajaran daring (Online) semakin terasa dibutuhkan. Berbagai platform pembelajaran daring bertebaran bagai jamur tumbuh di musim hujan. Semua berlomba menyuguhkan solusi dalam rangka menjembatani perubahan yang begitu tiba-tiba. Seiring waktu para guru di seluruh tanah air dari berbagain jenjang pendidikan mulai menggeliat bergerak baik secara parsial maupun bersama-sama mengoptimalkan segala bentuk teknologi terkini guna mengoptimalkan proses pembelajran. Namun pada kenyataannya tidak semulus harapan, pembelajaran daring (online) terkendala berbagai hal seperti : kepemilikan gawai, laptop, atau komputer masih belum merata. Tingginya kebutuhan biaya quota cukup meresahkan semua pihak bukan saja orang tua murid, mahasiswa, guru, dan dosenpun memerlukan pengaturan khusus. Akses terhadap internet yang masih terbatas di lingkungan perkotaan sementara di pelosok desa sulit diakses, dan sejumlah permasalahan lainnya. Karenanya pembelajaran daring (online) bukan satu-satunya cara yang efektif dalam pembelajaran. Diperlukan moda lain yang lebih akseptebel, misal pembelajaran luring (offline). Pembelajaran luring dapat dilakukan dengan memperhatikan dan melaksanakan protocol kesehatan yang ketat. Namun demikian dengan begitu panjangnya waktu pembelajaran jarak jauh menimbulkan kebosanan di kalangan murid. Karenanya bukan saja moda pembelajaran saja yang harus kita perhatikan apakah daring, luring, atau kombinasi kedua moda tersebut, namun yang lebih utama adalah para murid harus dapat makna dari pembelajaran tersebut. Pembelajaran akan bermakna jika dilakukan dengan menyenangkan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Peran adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat. teknologi  adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia, arti lainnya dari teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis. Arti terkini adalah baru atau actual. Sedangkan menyenangkan diartikan sebagai suasana membangkitkan rasa senang hati; memuaskan; menarik (hati). Dengan demikian dapat kita diinterpretasikan bahwa perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh keseluruhan sarana untuk menyediakan pembelajaran yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan siswa melalui metode ilmiah untuk mencapai tujuan baru dalam pembelajaran daring (online) dan luring (offline) menjadi semakin membangkitkan rasa senang hati dan  menarik bagi para siswa.

Menyadari bahwa dalam pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh masih banyak siswa yang terkendala akses internet secara aktif, paradigma pembelajaran “by conten”, dan pemberian tugas yang dirasa memberatkan sebagian besar para siswa, dipandang perlu membuat terobosan baru, salah satunya berupa pembelajaran daring maupun luring yang berbasis aktivitas.

Dengan pembelajaran berbasis aktivitas dan penilaian dilakukan secara holistik serta melibatkan siswa itu sendiri diharapkan pembelajaran berlangsung lebih bermakna sehingga bukan saja mendongkrak pemahaman secara kognitif namun juga mendorong pembentukan karakter secara “indirect” sehingga pembelajaran lebih menyenangkan dan tentunya memiliki makna bagi siswa.

Pembelajaran Jarak Jauh tidak selalu dan hanya melalui internet, Indonesia sangat beragam kondisinya. Pada umumnya dewasa ini masih banyak guru yang senang mengajar berbasis konten, maka ubah paradigma belajar bukan berbasis materi tapi belajar berbasis aktivitas. Aktivitas menjadi titik awal buat guru dalam membelajarkan siswa karenanya pembelajaran berbasis aktivitas dapat diupayakan sebagai solusi bagi seluruh siswa bukan hanya yang kesulitan akses internet. Bentuknya bisa LMS, Modul, worksheet, Video Pembelajaran, Naskah, e-book, Video Tutorial, Video Praktek pembelajaran tuntunan bagi siswa dan lain-lain. Orientasinya kepada metode, selanjutnya mengarah pada standar penilaian. Pembelajaran Berbasis Aktivitas menyasar siswa yang kesulitan akses internet, disediakan panduan yang menuntun aktivitas belajar yang dapat diakses dalam waktu online singkat atau diberikan oleh gurunya. Karena mengajar bukan hanya menyampaikan konten tapi lebih pada science/pemahaman. Penilaian dilakukan oleh siswa sendiri (penilaian diri sendiri), serta diberikan refleksi/umpan balik dari guru, hal ini secara tidak langsung memupuk karakter kejujuran. Assessment Of/For/As Learning bukan hanya hasil akhir. Dengan berbagai tuntunan siswa bisa belajar secara mandiri dengan science/pemahaman. Missal riset sederhana : meneliti perkembangang ekonomi kreatif di suatu daerah. Hal pertama pasti mencari referensi, turun ke lapangan, mendatangi objek atau subjek, sampai mempresentasikan. Dengan satu aktivitas dapat menjangkau berbagai kompetensi, mulai dari literasi, observasi, kecakapan abad 21 dan HOTS. Tujuannya jelas, terdapat aktivitas disertai dengan material sebagai alat/sarana aktivitas pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut.

Berikut beberapa strategi yang dapat dilakukan, Memanfaatkan lingkungan sekitar rumah sebagai media atau pengganti laboratorium. Berkolaborasi dari rumah, Aktivitas menonton video, menjawab pertanyaan, mengamati gambar. Jika kita menjejalkan materi kemudian dikuatkan belum cukup membuat pembelajaran bermakna, bagaimana melibatkan siswa dalam pembelajaran. Berbagi beran dengan siswa, lebih banyak aktivitas siswa, dan kolaborasi. Bagaimana memantenence motivasi siswa, aktivitas berada pada sebuah kegiatan, untuk menyelesaikan tugas. 

Banyak cara Activity Based Learning (ABL), seperti :  Dramatization, Quizzzis, Group Discussion (ada kesimpulan), Education Games, Brainstorming (tidak memberikan judgment pada setiap ide yang muncul, menggali ide genuine), Problem Solving, Debate, Discovery Learning, Project, Field Work (kerja lapangan), experimentation, dan Concep Mapping. Tidak menceramahi namun kita membangun pemahaman dan kompetensi siswa melauli aktivitas. 

Dengan demikian peran teknologi terkini dalam membuat pembelajaran daring (online) dan luring (offline) menjadi semakin menyenangkan akan terlaksana dan memiliki makna dalam pembelajaran siswa.

 

 

 

 

PROFIL PENULIS



Jajang, S.Pd., M.Pd. lahir di Sumedang 17 Desember 1971, anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan bapak  Iding dan ibu. Djuanah. Memulai Pendidikan pertama tahun 1978-1984 di SDN Cipeundeuy, tahun 1985-1987 melanjutkan ke SMPN Sukamenak, tahun 1988-1990 menempuh pendidikan di SPGN Sumedang, dan menyelesaikan pendidikan sarjana di STKIP Purnama Jakarta lulus tahun 2001, terakhir menempuh pendidikan pasca sarjana di Universitas Pendidikan Jakarta lulus tahun 2012. 

Sejak lulus SPG tahun 1990 menjadi tenaga sukarelawan di SD Cimaningtin yang merupakan sekolah terpencil, kemudian di SD Cipeundeuy dan di SMP Negeri 2 Wado sampai tahun 1995. Tahun 1995 mengajar di SD Bina Siswa Jakarta Timur, selanjutnya tahun 1998 mengajar di SDI Bani Saleh 1 Kota bekasi sampai tahun 2000. Terhitung tanggal 1 Maret 2000 diangkat menjadi guru PNS yang ditempatkan di SD Babakan Kecamatan Bantargebang Kota Bekasi sampai tahun 2004. Bulan Juli 2004 beralih tugas ke SMP Negeri 16 Kota Bekasi sampai tahun 2013, dan mulai bulan Juli tahun 2013 sampai saat ini bertugas di SMP Negeri 41 Kota Bekasi. 

Penulis memiliki kepribadian dinamis, terbuka terhadap hal-hal baru, dan penyuka tantangan.  Badminton dan bersepeda menjadi olahraga yang dilakukan disela rutinitas. Selain itu penulis memiliki cita-cita menjadi pribadi yang inspiratif dan dapat membawa dampak baik bagi sekitarnya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Profil

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Label