Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 09 Mei 2020

NASKAH SIARAN RUANG GURU ON AIR RADIO DAKTA


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang rekan dakta serta anak-anak sekalian,
Halo apa kabar ?
sehat-sehat kan ?
Tetap di rumah, jaga kesehatan, atur pola makan dan istirat yang cukup yaa….
Mari kita awali pembelajaran kita dengan membaca basmallah, (yg lain silakan menyesuaikan) BISSMILLAHIRRAHMANNIRRAHIIM… .

Bapak punya pantun neh, dengarkan dulu ya… .
Cerita indah fatamorgana
Padahal aslinya biasa saja
Mari kita cegah corona
Dengan tinggal di rumah saja

Sejak dahulu zaman raja
Bangun keraton gunakan bata
Sambil tinggal di rumah saja
Dengarkan RG OA radio Dakta

Sebelum memulai pembelajaran kita, izinkan bapak memperkenalkan diri terlebih dahulu. nama bapak pak Jajang. Bapak adalah guru IPS yang bertugas SMP Negeri 41 Kota Bekasi, Pada kesempatan ini bapak akan melanjutkan pembelajaran terdahulu yang sudah disampaikan oleh ibu Paramita Dewi pada tanggal 22 April yang lalu.

KD         :    3.4 Menganalisis kronologi, perubahan dan kesinambungan ruang (geografis, politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya) dari masa penjajahan sampai tumbuhnya semangat kebangsaan.

TOPIK    :  PERUBAHAN MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA PENJAJAHAN   DAN TUMBUHNYA SEMANGAT KEBANGSAAN 
SUB TOPIK :  Kondisi Masyarakat Masa Penjajahan (Di Buku Siswa Terdapat di Halaman 204-216)
Tujuan :
1)   Siswa mampu menganalisis Kondisi Masyarakat Masa Penjajahan;
2)   Siswa terampil menjelaskan Kondisi Masyarakat Masa Penjajahan sebagai akibat dari diberlakukannya kebijakan kolonial;
3)   Siswa mampu menerapkan sikap kritis terhadap Kondisi Masyarakat Masa Penjajahan untuk diterapkan pada Kehidupan sehari-hari.

Rekan dakta serta anak-anakku sekalian, Banyak yang bilang kalau belajar sejarah itu tidak penting-penting amat. Buat apa kita mempelajari kejadian yang sudah lewat ? Kenyataannya, apa yang kita nikmati saat ini adalah akibat dari kejadian-kejadian di masa lalu. Salah satunya, kita bisa bersekolah saat ini diawali dari peristiwa sejarah tempo dulu, yaitu politik etis. Nah itu segelintir dari peristiwa sejarah yang dapat kita nikmati sampai saat ini. Selain itu peristiwa sejarah dapat dijadikan pertimbangan untuk menentukan langkah di masa yang akan datang supaya peristiwa sejarah yang kurang baik tidak terulang.
Rekan Dakta serta anak-anaku sekalian, Tahukah kalian Apa yang dialami oleh Bangsa Kita setelah kedatangan Bangsa Eropa di Indonesia. kondisi masyarakat Indonesia saat itu menurut beberapa sumber sejarah sungguh memprihatinkan mereka sangat  terbelakang, tertindas dan menderita.
Apa saja yang membuat hal itu terjadi ?
Hal tersebut diakibatkan oleh kebijakan pemerintah Hindia Belanda pada saat itu, diantaranya :
1.   Monopoli dan adu domba
Pada awal kedatangannya, bangsa-bangsa Barat diterima dengan baik oleh rakyat Indonesia. Hubungan perdagangan tersebut kemudian berubah menjadi hubungan penguasaan atau penjajahan. VOC terus berusaha memperoleh kekuasaan yang lebih dari sekedar jual beli. Itulah yang memicu kekecewaan, kebencian, dan perlawanan fisik.
Pada awalnya, VOC meminta keistimewaan hak-hak dagang. Akan tetapi, dalam perkembangannya menjadi penguasaan pasar (monopoli). VOC menekan para raja untuk memberikan kebijakan perdagangan hanya dengan VOC. Akhirnya, VOC bukan hanya menguasai daerah perdagangan, tetapi juga menguasai politik atau pemerintahan.
Kalian tentu sering mendengar istilah monopoli. Apakah yang disebut monopoli ? Monopoli adalah penguasaan pasar yang dilakukan oleh satu atau sedikit perusahaan. Bagaimanakah dampak monopoli ? Bagi pelaku perusahaan, monopoli sangat menguntungkan karena mereka dapat menentukan harga beli dan harga jual. Sebagai contoh, pada saat melakukan monopoli rempah-rempah di Indonesia, VOC membuat perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Isinya, setiap kerajaan hanya mengizinkan rakyat menjual hasil bumi kepada VOC. Karena produsen sudah dikuasai VOC, maka pada saat rempah-rempah dijual, harganya sangat rendah. Sebaliknya, VOC menjualnya kembali ke Eropa dengan harga yang sangat tinggi. Tentu kalian bertanya, mengapa kerajaan-kerajaan di Indonesia membiarkan VOC memonopoli perdagangan ? Semua itu terjadi karena keterpaksaan. Belanda memaksa kerajaan-kerajaan di Indonesia untuk menandatangani kontrak monopoli dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah politik adu domba atau dikenal devide et impera. Siapa yang diadu domba ? Adu domba yang dilakukan Belanda dapat terjadi terhadap kerajaan yang satu dengan kerajaan yang lain, atau antarpejabat kerajaan. Apa tujuan Belanda melakukan adu domba?
Belanda berharap akan terjadi permusuhan antarbangsa Indonesia, sehingga terjadi perang antarkerajaan. Belanda juga terlibat dalam konflik internal yang terjadi di kerajaan. Pada saat terjadi perang antarkerajaan, Belanda mendukung salah satu kerajaan yang berperang. Demikian halnya saat terjadi konflik di dalam kerajaan,
Belanda akan mendukung salah satu pihak. Setelah pihak yang didukung Belanda menang, Belanda akan meminta balas jasa. Belanda biasanya meminta imbalan berupa monopoli perdagangan atau penguasaan atas beberapa lahan atau daerah.
Akibat monopoli, rakyat Indonesia sangat menderita. Mengapa demikian? Dengan adanya monopoli, rakyat tidak memiliki kebebasan menjual hasil bumi mereka. Mereka terpaksa menjual hasil
bumi hanya kepada VOC. VOC dengan kekuasaannya membeli hasil bumi rakyat Indonesia dengan harga yang sangat rendah. Padahal apabila rakyat menjual kepada pedagang lain, harganya bisa jauh lebih tinggi. VOC mengalami kebangkrutan pada akhir abad XVIII. Korupsi dan manajemen perusahaan yang kurang baik menjadi penyebab utama kebangkrutan VOC. Akhirnya, tanggal 13 Desember 1799, VOC dibubarkan. Mulai tanggal 1 Januari 1800, Indonesia menjadi jajahan Pemerintah Belanda, atau sering disebut masa Pemerintahan Hindia
Belanda. Mulai periode inilah Belanda secara resmi menjalankan pemerintahan kolonial dalam arti yang sebenarnya.
Itu tadi kebijakan colonial yang pertama, selanjutnya …
2.   Kerja paksa
Kerja paksa jaman Belanda disebut Rodi. Kerja rodi adalah suatu jenis kerja paksa yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang berupa pengerahan tenaga rakyat untuk membangun infrastruktur sipil atau militer demi kepentingan pengekalan pemerintahan kolonial itu sendiri. Berbeda dengan kerja paksa yang menggunakan tenaga tawanan atau tahanan, kerja rodi cenderung mengunakan "Rakyat Bebas" dan kadang masih mendapatkan upah, walau sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Kerja rodi ini oleh pemerintahan Kolonial Belanda diperhalus istilahnya menjadi "Kerja Wajib Negara" atau "Heerendiensten".
Bentuk kerja yang harus dilakukan oleh rakyat yang sedang kerja rodi misalnya, mendayung perahu, membuat fasilitas jalan atau jembatan, membangun benteng pertahanan, kerja blandong (penebangan kayu), dan kerja di perkebunan pemerintah.
Kerja Rodi diberlakukan ketika Daendels memerintah. Keinginan utama Daendels adalah agar masyarakat Indonesia mau bekerja untuk kepentingan Belanda. Herman Williem Daendels adalah seorang pemimpin yang dipilih oleh Belanda untuk memerintah daerah Indonesia, terutama wilayah Jawa. Untuk mewujudkan keinginannya dan keinginan Belanda itu, dia membentuk beberapa langkah yang akan membawa pengaruh ke dalam bidang pertahanan, bidang keamanan dan juga administrasi.
Dalam hal bidang pertahanan dan keamanan, Daendels melakukan beberapa kegiatan untuk mencapai tujuannya, seperti membangun benteng-benteng pertahanan baru dan juga membangun pangkalan angkatan laut di daerah Ujungkulon dan Anyer.
Selain itu, masih ada juga tindakan-tindakan Daendels yang lainnya seperti meningkatkan jumlah tentara, dan membangun jalan raya dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1100 km. Kegiatan ini mengubah image Daendels. Dulu, dia dikenal sebagai seorang pemuda yang memegang teguh semboyan Revolusi Prancis, setelah semua itu terjadi, dia menjadi seorang pemuda yang kejam dan diktator.
Daendels menyuruh semua rakyat untuk melakukan kerja Rodi. Ketika pembangunan jalan raya Anyer-Panarukan, banyak rakyat yang meninggal. Kerja Rodi pembangunan pangkalan UjungKulon membuat rakyat sulit mencapainya. Tempat pembuatan jalan tersebut penuh dengan nyamuk malaria sehingga tidak sedikit rakyat Indonesia yang meninggal ketika pelaksanaan program itu.
Rekan dakta dan anak-anaku sekalian pernahkah mendengar jalan cadas pangeran ? itu salah satu bukti peristiwa sejarah yang masih bisa kita gunakan sampai saat ini. Jalan Cadas Pangeran merupakan bagian dari rangkaian jalan raya Anyer-Panarukan. Disana terdapat monument bersejarah yang dilambangkan dengan peristiwa bersalaman yang unik antar Pangeran Kornel (Pangeran Kusumadinata IX; penguasa Kabupaten Sumedang, (1791-1828) dengan Deandels. Dimana Pangeran Kornel bersalaman dengan tangan kiri, tangan kanannya menghunus keris Naga Sasra seraya menantang Deandels berduel. 
demikian tadi kebijakan colonial yang kedua, selanjutnya …
3.   Sewa tanah
Sistem sewa tanah terapkan oleh Thomas Stamford Raffles setelah mengambil alih kekuasaan dari belanda.  Thomas Stamford Raffles diangkat menjadi Letnan Gubernur EIC di Indonesia. Ia memegang pemerintahan selama lima tahun (1811-1816) dengan membawa perubahan berasas liberal. Setelah Inggris berhasil menguasai Indonesia kemudian memerintahkan Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur di Indonesia dan memulai tugasnya pada tanggal 19 Oktober 1811.
Raffles banyak mengadakan perubahan-perubahan, baik di bidang ekonomi maupun pemerintahan. Raffles bermaksud menerapkan politik kolonial seperti yang dijalankan oleh Inggris di India. Kebijakan Daendels yang dikenal dengan nama Contingenten diganti dengan sistem sewa tanah (Landrent). Sistem sewa tanah disebut juga sistem pajak tanah. Rakyat atau para petani harus membayar pajak sebagai uang sewa, karena semua tanah dianggap milik negara.


Pokok-pokok sistem sewa tanah(Landrent) adalah sebagai berikut :
1)   Penyerahan wajib dan wajib kerja dihapuskan.
2)   Hasil pertanian dipungut langsung oleh pemerintah tanpa perantara bupati.
3)   Rakyat harus menyewa tanah dan membayar pajak kepada pemerintah sebagai pemilik tanah.
Pemerintahan Raffles didasarkan atas prinsip-prinsip liberal yang hendak mewujudkan kebebasan dan kepastian hukum. Prinsip kebebasan mencakup kebebasan menanam dan kebebasan perdagangan. Kesejahteraan hendak dicapainya dengan memberikan kebebasan dan jaminan hukum kepada rakyat sehingga tidak menjadi korban kesewenang-wenangan para penguasa.
Dalam pelaksanaannya, sistem sewa tanah di Indonesia mengalami kegagalan, karena:
1)   sulit menentukan besar kecilnya pajak untuk pemilik tanah yang luasnya berbeda,
2)   sulit menentukan luas sempit dan tingkat kesuburan tanah,
3)   terbatasnya jumlah pegawai, dan
4)   masyarakat pedesaan belum terbiasa dengan sistem uang.
namun demikian ada kebijakan Raffles Dalam bidang pengetahuan yang membawa dampak baik bagi bangsa kita, Raffles menetapkan kebijakan berupa:
1)   Mengundang ahli pengetahuan dari luar negeri untuk mengadakan berbagai penelitian ilmiah di Indonesia.
2)   Raffles bersama Arnoldi berhasil menemukan bunga bangkai sebagai bunga raksasa dan terbesar di dunia. Bunga tersebut diberinya nama ilmiah Rafflesia Arnoldi.
3)   Raffles menulis buku “History of Java” dan merintis pembangunan Kebun Raya Bogor sebagai kebun biologi yang mengoleksi berbagai jenis tanaman di Indonesia bahkan dari berbagai penjuru dunia.
Kebun Raya Bogor merupakan hasil peristiwa sejarah yang juga masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Siapa diantara kalian yang sudah berkunjung kesana ? yang belum silakan berkunjung setelah corona berlalu ya.
demikianlah kebijakan colonial Rafles, selanjutnya …
4.   Tanam paksa
Cultuurstelsel yang oleh sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditas ekspor, khususnya kopitebuteh, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial.
Berikut isi aturan tanam paksa :
1)    Tuntutan kepada setiap rakyat Indonesia agar menyediakan tanah pertanian untuk cultuurstelsel tidak melebihi 20% atau seperlima bagian dari tanahnya untuk ditanami jenis tanaman perdagangan.
2)    Pembebasan tanah yang disediakan untuk cultuurstelsel dari pajak, karena hasil tanamannya dianggap sebagai pembayaran pajak.
3)    Rakyat yang tidak memiliki tanah pertanian dapat menggantinya dengan bekerja di perkebunan milik pemerintah Belanda atau di pabrik milik pemerintah Belanda selama 66 hari atau seperlima tahun.
4)    Waktu untuk mengerjakan tanaman pada tanah pertanian untuk Culturstelsel tidak boleh melebihi waktu tanam padi atau kurang lebih 3 (tiga) bulan
5)    Kelebihan hasil produksi pertanian dari ketentuan akan dikembalikan kepada rakyat
6)    Kerusakan atau kerugian sebagai akibat gagal panen yang bukan karena kesalahan petani seperti bencana alam dan terserang hama, akan di tanggung pemerintah Belanda
7)    Penyerahan teknik pelaksanaan aturan tanam paksa kepada kepala desa
Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda. Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.
Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada zaman VOC wajib menjual komoditas tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah Belanda. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia Belanda pada 1835 hingga 1940.
Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini, Van den Bosch selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839.
Cultuurstelsel kemudian dihentikan setelah muncul berbagai kritik dengan dikeluarkannya UU Agraria dan UU Gula 1870, yang mengawali era liberalisasi ekonomi dalam sejarah penjajahan Indonesia.
Itulah beberapa kebijakan colonial yang menyengsarakan rakyat, selanjutnya …

5.   Politik Etis
Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan bumiputera. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa. Munculnya kaum Etis yang dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para bumiputera yang terbelakang.
Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi terhadap bangsa bumiputera di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tersebut ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Van deventer yang meliputi:
1.    Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian.
2.    Imigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi.
3.    Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan.
Banyak pihak menghubungkan kebijakan baru politik Belanda ini dengan pemikiran dan tulisan-tulisan Van Deventer yang diterbitkan beberapa waktu sebelumnya, sehingga Van Deventer kemudian dikenal sebagai pencetus politik etis ini.
Kebijakan pertama dan kedua disalahgunakan oleh Pemerintah Belanda dengan membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan emigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. Hanya pendidikan yang berarti bagi bangsa Indonesia.
Pengaruh politik etis dalam bidang pengajaran dan pendidikan sangat berperan dalam pengembangan dan perluasan dunia pendidikan dan pengajaran di Hindia Belanda. Sejak itulah berdiri sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah.
Kalangan pendukung politik etis merasa prihatin terhadap bumiputera yang mendapatkan diskriminasi sosial-budaya. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka berusaha menyadarkan kaum bumiputera agar melepaskan diri dari belenggu feodal dan mengembangkan diri menurut model Barat, yang mencakup proses emansipasi dan menuntut pendidikan ke arah swadaya.
Rekan Dakta serta anak-anaku sekalian, Secara tidak langsung, kita dapat menikmati pendidikan saat ini tidak terlepas dari peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya. Demikianlah pentingnya belajar sejarah agar kita menjadi bangsa yang besar. Ir Soekarno sebagai bapak bangsa kita pernah berkata “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya”. Nah bagaimana kita bisa menghargai jasa para pahlawan jika kita tidak tahu sejarah.

Baiklah Rekan Dakta serta anak-anaku sekalian, tibalah kita pada penghujung pembelajaran hari ini,  Poin-poin pembelajaran yang dapat kita simpulkan diantaranya :
1)   Kehidupan Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan sangatlah menderita, hal ini lebih dikarenakan masyarakat kita pada saat itu masih terbelakang.
2)   Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan mengalami berbagai perubahan kebijakan yang lebih cenderung merugikan, namun demikian terdapat pula hal-hal yang positif bagi kehidupan bangsa kita di kemudian hari.
3)   Sikap kritis kita terhadap Perubahan Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan sehingga dapat kita terapkan Pada Kehidupan sehari-hari adalah : belajarlah dengan rajin, gunakan kesempatan untuk meraih cita-cita sehingga bangsa kita menjadi bangsa yang maju di berbagai bidang sehingga kita tidak mungkin lagi mengalami penjajahan oleh bangsa lain di berbagai sector seperti peristiwa dulu.

Rekan Dakta dan anak-anaku sekalian, pembelajaran IPS khususnya sejarah saat ini tidak lagi menitik beratkan pada hapalan nama-nama, tanggal, dan tokoh. namun lebih mengarah pada proses berpikir tingkat tinggi, yaitu pengetahuan didapat dari berbagai proses belajar untuk dikembangkan dengan cara berfikir kritis sehingga menghadirkan solusi.

Untuk itu jika ada yang ingin bertanya silakan sampaikan jika masih ada waktu, namun jika tidak cukup waktu silakan sampaikan pertanyaan kalian melalui DM Instagram @jajang_smd
Kalian juga bisa mengakses video pembelajaran di chanel Yutube : jajang gen71
Sebelum berpisah bapak sampaikan lagi sebuah pantun berikut ;
Si mamat membeli pulsa,
Pada hari jum’at legi,
Selamat menunaikan ibadah puasa,
Sampai kita berjumpa lagi.

SALAM IPS
SALAM SEHAT
SATY SAVE
STAY AT HOME

Wassalamu Alaikum wr.wb.


PERTANYAAN :
1.   Setiap peristiwa selalu mengakibatkan dua hal yaitu baik dan buruk. Apa saja akibat baik/Manfaat yang bisa kita petik dari peristiwa sejarah pemberlakuan berbagai kebijakan pada masa penjajahan ?
2.   Bagaimana cara kami menerapkan sikap kritis terhadap Kondisi Masyarakat Masa Penjajahan untuk diterapkan pada Kehidupan sehari-hari saat ini ?
3.   Mengapa VOC dibubarkan/bangkrut, bukankah VOC menguntungkan Belanda ?

JAWABAN :
1.   akibat baik/Manfaat yang bisa kita petik dari peristiwa sejarah pemberlakuan berbagai kebijakan pada masa penjajahan diantaranya adalah : masyarakat kita jadi mengenal beragam komoditas pertanian dan perkebunan, masyarakat kita jadi mengenal system mata uang dalam kegiatan ekonomi; kita memiliki peninggalan-peninggalan sejarah yang masih bisa kita gunakan diantaranya kebun raya bogor; jaringan rel KA; jalan raya Anyer-Panarukan; UU Agraria; dsb.  
2.   cara menerapkan sikap kritis terhadap Kondisi Masyarakat Masa Penjajahan untuk diterapkan pada Kehidupan sehari-hari saat ini dapat berupa : Indonesia disinyalir tahun 2045 akan mengalami bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif akan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk usia non produktif. Hal ini menjadikan Indonesia potensial menjadi Negara maju. Namun demikian jika SDM tidak berkualitas akan menjadi sebaliknya yaitu menjadi beban pembangunan. Siapa saja para pelaku bonus demografi tersebut ? tentunya adalah rekan dakta dan kalian anak-anak murid bapak. Oleh karenanya supaya kita tidak menjadi beban pembangunan kita harus semakin rajin belajar supaya bangsa pengetahuan kita bertambah, perkaya wawasan dengan sering berdiskusi baik dengan rekan2 maupun narasumber lain, terbuka pada perubahan namun tetap memelihara jati diri senagai bangsa sehingga kita menjadi bangsa yang maju di segala bidang dan mampu bersaing dengan Negara lain di dunia.
3.   VOC dibubarkan/bangkrut karena :
a)  kepemimpinan VOC kental dengan unsur korupsi dan suap.
b)  Banyak pemimpin VOC yang menyelewengkan kekuasaan dengan menerapkan gaya hidup mewah.
c)  Banyak biaya yang dikeluarkan karena terlibat banyak perang, salah satunya adalah perang melawan Sultan Hasanuddin, perang Diponegoro, dll
d)  Kalah bersaing dengan kongsi dagang Inggris (EIC) dan Prancis (CDI).
e)  Terlalu mencampuri kewenangan pribumi.
VOC yang dibentuk tanggal 20 Maret 1602 dan resmi dibubarkan pada 31 Desember 1799 (197 tahun)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Profil

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Label